Sosbud

Bakda Kupat: Harmoni Tradisi, Spiritualitas, dan Kearifan Lokal

DEADLINE.NEWS- Kemeriahan Idul Fitri di tanah Jawa tidak benar-benar usai setelah gema takbir 1 Syawal mereda. Tepat tujuh hari setelahnya, masyarakat kembali bersukacita merayakan Bakda Kupat atau Hari Raya Ketupat. Tradisi ini hidup di berbagai wilayah seperti Jawa Tengah, DIY, hingga Jawa Timur, menjadi bukti harmonisasi antara nilai-nilai Islam dan budaya lokal.

Sejarah dan Dakwah Sunan Kalijaga
Bakda Kupat bukan sekadar perayaan kuliner, melainkan bagian dari strategi dakwah. Tradisi ini diyakini berasal dari ajaran Sunan Kalijaga, salah satu Wali Songo yang dikenal bijak dalam menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya.

Perayaan ini dilaksanakan setelah umat Muslim menjalankan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal. Ketupat dijadikan simbol kemenangan spiritual yang paripurna—bukan hanya menahan lapar, tetapi juga membersihkan jiwa.

Filosofi di Balik Sebutir Ketupat
Dalam budaya Jawa, “kupat” merupakan akronim dari Ngaku Lepat, yang berarti mengakui kesalahan. Nilai ini tercermin dalam tradisi sungkeman, saat yang muda memohon maaf kepada yang lebih tua.

Ketupat juga mengandung filosofi Laku Papat, yaitu empat tindakan utama manusia:

Lebaran – berakhirnya puasa dan terbukanya pintu ampunan
Luberan – semangat berbagi dan melimpahnya rezeki
Leburan – meleburnya dosa melalui saling memaafkan
Laburan – kembali suci, hati menjadi bersih seperti kapur putih
Simbolisme Janur dan Anyaman
Ketupat yang dibungkus janur kuning menyimpan makna spiritual mendalam. Janur dimaknai sebagai Sejatining Nur (cahaya sejati).

Sementara anyaman yang rumit melambangkan kompleksitas kesalahan manusia.

Namun, kerumitan itu akan terurai indah melalui ketulusan saling memaafkan—menjadi pesan kuat bahwa setiap kesalahan dapat diperbaiki dengan keikhlasan.

Tradisi Berbagi dan Kenduri Warga
Di hari Bakda Kupat, hampir setiap rumah memasak ketupat dalam jumlah besar. Menariknya, ketupat tersebut tidak hanya untuk konsumsi pribadi.

Warga biasanya membawa ketupat ke masjid atau balai desa untuk didoakan dalam acara kenduri. Setelah itu, makanan dibagikan kepada tetangga sebagai simbol kebersamaan dan eratnya tali persaudaraan.

Perayaan Unik di Berbagai Daerah
Setiap daerah memiliki cara khas dalam merayakan Bakda Kupat:
Solo & Yogyakarta: Tradisi gunungan ketupat di lingkungan keraton
Kudus: Tradisi “Bulusan” dan kirab hasil bumi

Pesisir Utara Jawa: Pesta laut dan makan bersama di pantai sebagai bentuk syukur

Makna yang Tak Lekang Waktu
Bakda Kupat mengajarkan bahwa penyucian diri bukan proses instan. Ia membutuhkan keberanian mengakui kesalahan, ketulusan memberi maaf, serta keikhlasan berbagi dengan sesama.

Lebih dari sekadar tradisi, Bakda Kupat adalah pengingat bahwa nilai kemanusiaan dan spiritualitas harus terus dijaga—agar persaudaraan tetap erat, melintasi zaman.

Buka Semuanya
Back to top button