Uncategorized

YANG PALING DITAKUTI MANUSIA BUKAN KEHILANGAN TUHAN, TAPI KEHILANGAN MILIKNYA Makna Qurban yang Kerap Disalahpahami

Setiap kita adalah Ibrahim. Dan setiap Ibrahim pasti memiliki “Ismail” dalam hidupnya. Pertanyaannya bukan apakah kita mencintainya, melainkan apakah kita sanggup melepaskannya ketika Allah menghendaki.

Di tengah perayaan Idul Adha, banyak orang memahami kurban sebatas ritual menyembelih hewan. Padahal, jika kita menelusuri lebih dalam makna yang terkandung dalam kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail, kurban sesungguhnya adalah pelajaran tentang keikhlasan, kepatuhan, dan keberanian melepaskan sesuatu yang paling dicintai.

Manusia modern hidup dalam zaman yang dipenuhi rasa memiliki. Kita membangun identitas dari jabatan, kekayaan, popularitas, pencapaian, bahkan pengakuan di media sosial. Tidak sedikit yang rela mengorbankan keluarga demi karier, menggadaikan prinsip demi status, atau menukar ketenangan batin dengan ambisi yang tak pernah selesai.

Di titik itulah, tanpa disadari, banyak orang mulai menempatkan sesuatu selain Tuhan sebagai pusat hidupnya.

Kisah Nabi Ibrahim sejatinya bukan sekadar tentang perintah menyembelih seorang anak. Ujian terbesar dalam kisah tersebut bukan berada pada pisau yang terhunus atau altar pengorbanan yang disiapkan. Yang diuji adalah hati Ibrahim. Apakah cintanya kepada Allah berada di atas segala cinta yang lain?

Allah tidak membutuhkan darah Ismail. Allah tidak memerlukan pengorbanan fisik semata. Yang ingin dihancurkan adalah rasa kepemilikan yang berlebihan dalam diri manusia. Sebab sering kali manusia lupa bahwa apa yang dimiliki hari ini hanyalah titipan.

Harta adalah titipan. Jabatan adalah titipan. Anak, keluarga, kesehatan, bahkan usia yang kita jalani setiap hari juga merupakan titipan. Namun manusia sering terjebak pada ilusi bahwa semua itu adalah miliknya secara mutlak. Ketika kehilangan datang, iman pun ikut terguncang karena selama ini sandaran hidupnya bukan Tuhan, melainkan apa yang dimiliki.

Karena itu, makna kurban yang paling mendalam sesungguhnya adalah keberanian menyembelih ego. Menyembelih kesombongan yang membuat manusia merasa paling hebat. Menyembelih ketamakan yang membuat manusia tidak pernah merasa cukup. Menyembelih ambisi yang membuat seseorang menghalalkan segala cara. Dan menyembelih rasa memiliki yang berlebihan hingga melahirkan ketakutan kehilangan.

Hari ini, “Ismail” manusia modern tidak selalu berupa seorang anak. Ia bisa bernama rekening bank, jabatan, popularitas, gelar akademik, bisnis, atau citra yang dibangun di hadapan publik. Semua itu baik dan boleh dimiliki. Yang menjadi masalah adalah ketika semua itu mengambil posisi yang seharusnya hanya ditempati oleh Tuhan di dalam hati.

Semakin kuat manusia menggenggam dunia, semakin besar pula ketakutannya kehilangan dunia. Sebaliknya, semakin ia menyadari bahwa segala sesuatu hanyalah titipan, semakin lapang ia menerima perubahan dan kehilangan.

Iduladha mengajarkan bahwa iman bukan hanya tentang ibadah yang terlihat, tetapi juga tentang kemampuan menata hati. Sebab banyak orang mampu membeli sapi untuk kurban, tetapi belum tentu mampu menyembelih egonya sendiri. Banyak orang terlihat saleh di hadapan manusia, tetapi masih diperbudak oleh ambisi dunia yang tidak pernah selesai.

Maka, ketika takbir berkumandang dan hewan kurban disembelih, ada pertanyaan yang patut diajukan kepada diri sendiri: apa sebenarnya “Ismail” yang selama ini terlalu erat saya genggam?

Sebab makna kurban tidak berhenti pada darah yang mengalir. Makna kurban yang sesungguhnya adalah ketika manusia belajar menempatkan Tuhan di atas segala yang dicintainya.

Dan mungkin, itulah pengorbanan paling sulit yang harus dilakukan manusia sepanjang hidupnya.

— Arief

Buka Semuanya

Tinggalkan Balasan

Back to top button